DAMPAK KEPUASAN, IMAGE PADA LOYALITAS WISATAWAN: SEBUAH PERSPEKTIF BISNIS PARIWISATA

Martaleni Martaleni

Abstract


Regulasi industri penerbangan, kemajuan tekhnologi, kemunculan e-comerce dan perubahan demografi, perjalanan dan pariwisata terus menghasilkan devisa sebuah negara mengalami peningkatan dan lapangan pekerjaan semakin terbuka.  Periwisata merupakan salah satu industri strategis yang mendapatkan perhatian dari banyak pihak, baik pada tingkat nasional maupun internasional. Pengembangan pariwisata bukan hanya sekedar sumber pendapatan devisa negara tapi pariwisata dapat berperan sebagai katalisator pembangunan (agent of development). Menurut World Tourism Organization (WTO) jumlah wisatawan global akan meningkat menjadi 1.018 juta orang dengan perolehan devisa sebesar 3,4 triliun dollar AS, investasi pariwisata dunia sebesar 10,7 persen permodalan dunia dan kesempatan kerja sebanyak 204 juta orang. Artinya, satu diantara sembilan orang akan bekerja di sector Pariwisata. Dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 4,1 persen, jumlah wisatawan dunia akan meningkat menjadi 1.561 juta orang di tahun 2020.

        Seiring dengan target pertumbuhan pariwisata di Indonesia yang semakin meningkat setiap tahun maka Pemerintah Daerah di masing-masing provinsi telah berusaha membuat berbagai Kawasan Wisata Terpadu (KWT). Tujuannya tentunya antara lain untuk meningkatkan Pendapatan Daerah masing-masing. Beberapa KWT masih dalam rangka perencanaan misalkan Padang Bay City di Kota Padang, Bandung dengan Kota Trans, Bogor dengan Taman Safari Indonesia dan kota-kota lainnya.

            Pola Pariwisata ke depan adalah orang-orang akan melakukan perjalanan wisata dengan memanfaatkan pola baru. Peserta MICE (Meeting, Incentive, Convention, dan Exhibition) akan membawa serta keluarga (istri dan anak-anak) karena perjalanan bisnisnya digabung dengan kesempatan liburan keluarga sehingga kebanyakan dari mereka akan memperpanjang waktu kunjungan di tempat MICE diselenggarakan (Oka.A Yoeti,2008).

Disadari bahwa pengembangan pariwisata, bukanlah hanya tanggung jawab pemerintah pusat, melainkan juga merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Sebagai pemegang kekuasaan dan kewenangan, tentunya pemerintah daerah lebih menguasai dan memahami tentang potensi daerahnya, sehingga dalam menentukan obyek wisata yang perlu dikembangkan akan lebih tepat. Terkait dengan hal ini sesungguhnya tidak sedikit pemerintah daerah di Indonesia (baik Provinsi, maupun Kota/Kabupaten) yang sudah mengupayakan dalam meningkatkatkan peran pariwisata, terlebih lagi dengan diberlakukannya UU NO 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah. Malang Raya, yang terdiri atas Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu merupakan bagian integral dari negara Indonesia, sehingga Pemerintah Daerah di masing-masing daerah tersebut juga mempunyai kewajiban untuk meningkatkan peran pariwisatannya dalam rangka mendukung roda pembangunan di daerah Malang Raya khususnya, dan di Indonesia pada umumnya. Secara geomorfologis Malang Raya mempunyai potensi yang memungkinkan pertumbuhan dan pengembangan wilayahnya berbasis pada pariwisata, mengingat daerahnya terdiri dari wilayah pergunungan dan dataran, serta perairan pantai yang membentuk bentangan-bentangan alam yang indah dengan patahan-patahan yang menimbulkan air terjun, hamparan pantai yang luas dan berpasir yang putih. Disamping itu, Malang Raya jaga dikenal sebagai kota pendidikan.

Permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan dalam tiga pertanyaan penelitian, sebagai berikut:

  1. Apakah semakin kuat image (citra) DTW  akan semakin meningkatkan kepuasan wisatawan.
  2. Apakah semakin kuat image (citra) DTW akan meningkatkan loyalitas wisatawan.
  3. Apakah semakin kuat kepuasan wisatawan, akan meningkatkan loyalitas wisatawan
  4. Apakah semakin tinggi image (citra) wisatawan secara tidak langsung melalui kepuasan akan meningkatkan loyalitas wisatawan terhadap daerah tujuan wisata (DTW).

Refbacks

  • There are currently no refbacks.