Analisis Konflik Majikan-Buruh dalam Kerangka Game Theory: Penerapan Analytic Hierarchy Process (AHP)

Jose Rizal Joesoef, Teguh Prasetio, Sulistiyanti Sulistiyanti

Abstract


Transformasi sosiai dari agraris ke urban-industrial cenderung diikuti dengan perubahan dari pola paguyuban (Gemeinschaft) menjadi patembayan (Gesselschaft). Ini membuat interaksi majikan-buruh tidak bersifat emosional semata, melainkan didasarkan pata pertimbangan biaya-manfaat. Masyarakat paguyuban cenderung mengutamakan harmoni ketimbang konflik. Sebaliknya dalam masyarakat patembayan, ketika kepentingan satu plhak terancam, maka konflik laten mencuat menjadi konflik aktual.

Konvensi ILO No. 87 tentang Kebebasan Berserikat, UU No. 2/2000 tentang Serikat Pekerja, Kepmenaker No. 150/2000 tentang Pemutusan Hubungan Kerja, ditambah dengan reformasi politik di Indonesia, telah menguatkan posisi buruh/karyawan untuk secara ekspresif menggugat tindakan majikan/manajemen perusahaan yang dianggap represif. Gejala ini telah dirasakan betul oleh banyak pengusaha di Jawa Timur.

Dengan menggunakan model konflik dari Thomas & Kilmann (1974)—yang dikenal dengan sebutan Thomas-Kilmann instrument mode—riset ini mengamati interaksi strategis majikan-buruh di Jawa Timur. Interaksi strategis dan intensitas konflik dikuantifikasi dengan AHP (analytic hierarchy process), kemudian disusun serta dianalisis dalam kerangka game theory.

Berdasarkan hasil interaksi strategi pihak manajemen vis-a-vis strategi pihak karyawan, studi ini melihat bahwa kedua pihak masing-masing menerapkan strategi dominan: competing. Jika pasangan competing-competing diasumsikan sebagai pasangan strategi yang egoistis, dan kedua pihak bersikukuh dengan strategi competing, maka kedua pihak seperti terjebak dalam situasi prisoner’s dilemma.


Keywords


Thomas-Kilmann instrument mode, game theory, analytic hierarchy process (AHP), prisoner’s dilemma

Full Text:

full text

Refbacks

  • There are currently no refbacks.